JANK TANEAK - Ku

HOME

Tampilkan postingan dengan label curup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curup. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Mei 2011

Sistem Hukum Adat Rejang Marga Jurukalang Lebong


OLEH : ERWIN BASRIN 

Keberadaan peradilan adat di tanah Rejang sudah berlangsung untuk kurun waktu yang cukup lama, jauh sebelum agama Islam masuk ke Tanah Rejang dimulai ketika zaman Ajai dan Bikau, negeri yang terletak disepanjang Bukit Barisan ini penduduknya sudah lama melaksanakan tata tertib peradilannya menurut hukum adat. Pada masa penjajahan peradilan adat tetap bertahan sebagai suatu bentuk peradilan “orang asli” berhadapan dengan peradilan “gouvernement rechtsspraak” terutama di daerah-daerah yang dikuasai oleh Belanda, tetapi ada pengakuan dari Pemerintahan Belanda terhadap peradilan adat, pengakuan ini dilakukan secara berbeda dengan landasan hukumnya masing-masing. Setelah Indonesia merdeka peradilan adat ini menjadi tidak berdaya setelah disyahannya UU Darurat No 1 Tahun 1950 yang menghapus beberapa peradilan yang tidak sesuai dengan Negara Kesatuan atau menghapus secara berangsur-angsur peradilan swapraja di beberapa daerah dan semua peradilan adatnya.[1]

Secara sosiologispun aspek hukum dan peradilan adat dalam kehidupan masyarakat Jurukalang di pandang sebagai penjaga keseimbangan, keseimbangan yang dimaksud adalah kehidupan yang harmonis antar anggota masyarakat dan antar masyarakat dengan alam. Karena itu peradilan di pandang sebagai media penjaga keseimbangan daripada sebuah institusi pemberi dan penjamin keadilan sebagaimana yang dipahami dalam hukum modern atau hukum positif. Dalam kerangka inilah masyarakat adat di Jurukalang memandang hukum adat sebagai salah satu dari tiga unsure penjaga keseimbangan disamping hukum negara (pemerintah) dan hukum agama.

Dalam sejarah Adat Jurukalang proses Hukum meliputi semua aspek kehidupan warganya yang tidak hanya mengatur sangsi tetapi lebih jauh mengatur hak dan kewajiban baik dengan sesama warga komunitas maupun dengan kepercayaan tertentu yang biasanya bersipat magis, dengan demikian Hukum Adat yang terdapat di Jurukalang merupakan alam pikiran tradisional yang umumnya bersifat kosmis dan totaliter tidak ada pemisahan dari berbagai macam larangan hidup, tidak ada pemisahan antara dunia lahir dan dunia gaib serta tidak ada pemisahan antar manusia dengan makluk lainnya, segala sesuatu bercampur baur, bersangkut paut dan saling berpengaruhi yang paling penting jika dilihat lebih jauh di Jurukalang hokum adapt adalah manisfestasi dari keseimbangan, keselarasan, keserasian (evenwicht), segala yang mengangu keseimbangan tersebut merupakan pelangaran Hukum.

Patokan-patokan umum dalam system Hukum Adats di Jurukalang mengacu pada;


Sejarah Kelembagaan Rejang Jurukalang


OLEH : ERWIN BASRIN

Jurukalang merupakan bagian dari system Petulai dalam sejarah Suku Bangsa Rejang dan warga komunitasnya merupakan himpunan manusia (indigenous community) yang tunduk pada kesatuan Hukum yang dijalankan oleh penguasa yang timbul sendiri dari Masyarakat Hukum Adat, beberapa informasi yang digali dari beberapa sumber Petulai sering disamakan dengan perkataan Mego namun sampai saat ini definisi keduanya masih menjadi perdebatan pada tataran definisi dan konseptual.

Hanya satu cerita secara turun temurun yang menceritakan tentang sejarah asal usul kelembagaan ini adalah sebagai berikut[1];

Pada suatu masa dalam awal pemerintahan Bikau (generasi pasca pemerintahan Ajai) terjadinya suatu bencana, suatu malapeta yag hebat. Rakyat di wilayah Rejang banyak yang sakit dan kemudian meningal dunia. Segala usaha telah dilakukan dan dijalankan untuk mencegah dan menangkis becana tersebut tetapi semuanya tidak berhasil dan kemudian dimintaklah ramalan dari alhi nujum.

Menurut alhi nujum tersebut, yang menyebabkan kedatangan bencana tersebut adalah seekor beruk putih (monyet putih) yang berdiam di atas sebatang pohon yang besar, pohon Benuang Sakti. Kemana arah Beruk Putih tersebut berbunyi maka negeri-negeri yang dihadapinya akan mendapat bencana yang dimaksud. Maka atas kemupakatan ke empat petulai batang Benuang Sakti yang dimaksud oleh Ahli Nujum harus dicari sampai dapat dan kemudian di tebang. Usaha mencari batang atau pohon Benuang Sakti itu tidaklah dilakukan secara bersama-sama hanya ke satu arah, tapi tiap-tiap petulai berpencar untuk mencarinya dan menemukan pohon benung sakti yang diramalkan tersebut.

Jadi ada yang menuju kea rah timur, barat, ada yang keselatan dan ada pula yang ke utara. Hasilnya adalah yang pertama-tama menemukan pohon yang dicari itu adalah anak buah Bikau Bermano. Mereka segera mulai menebang pohon itu, tetapi bagaimanapun kuatnya mereka berusaha menebang batang pohon tersebut, pohon itu tidak juga roboh, malahan sebagai meminjam kata-kata riwayat: segumal runtuh tebalnya, dua gumpal bertambah, demikian pohon itu semakin dikapak semakin bertambah besar.

Dalam pada itu muncullah anak buah pimpinan Bikau Sepanjang Jiwo, sambil berkata dalam bahasa Rejang: bie puwes keme be ubei-ubei, uyo mako betemau (artinya; aduhai telah puas kami berduyun-duyun bersama mencari, sekarang barulah menemukannya.

Maka dikerahkanlah tenaga baru itu dan bersama-sama mereka semua mulai berusaha merebahkan pohon besar itu, tetapi jerih payah mereka itu juga tidak berhasil. Kemudian muncul pula anak buah pimpinan Bikau Bejenggo dan mereka pun segera turut membantu menebang pohon, tetapi pohon itu tidak juga roboh, malahan bukan semakin berkurang malah sebaliknya bertambah besar. Maka berkatalah anak buah Bikau Bermano dalam bahasa Rejang:

Keme yo kerjo cigai ade mania igai, anok buweak Bikau Sepanjang Jiwo bi teubei-ubei kulo, anok buweak Bikau Bejenggo bi gupuak kulo kerjo tapi ati kune kiyeu yo lok ubuak, berang kali anok buweak Bikau Bembo alang ne igai mako si lok ubuak kiyeu yo (artinya; kami telah bekerja hingga tak berdaya, anak buah Bikau Sepanjang Jiwo telah bersama-sama pula bekerja dan anak buah Bikau Bejenggo pun turut bersama-sama kerja, tetapi pohon ini tak juga roboh, barangkali anak buah Bikau Bembo yang menjadi penghalangnya)



Bokoa Iben (Tempat Sirih) dari Rejang Lebong






Berbagai bentuk dari bokoa iben (tempat sirih), salah satunya berbentuk persegi panjang. "Bokoa iben" ini buatan dari kecamatan Sindang BelitiULu.

Sumber :http://rejanglebong.blogspot.com

Sabtu, 21 Mei 2011

Manusia Tidak Mampu Menolak Hujan, Hanya Mampu Memohon Kepada Sang Kuasa



Berbincang-Bincang Dengan Mbah Yugo Suwito (100 tahun), Sering Diundang Setiap Ada Acara Besar

Manusia Tidak Mampu Menolak Hujan, Hanya Mampu Memohon Kepada Sang Kuasa


Yugo Suwito atau pria dengan panggilan akrabnya, Mbah Yugo, adalah seseorang yang dipercaya memiliki kemampuan supranatural. Mbah Yugo, kerap diundang setiap kali ada acara-acara besar, salah satunya saat penutupan TMMD (TNI Manunggal Masuk Desa) di Lapangan Sepak Bola, Desa Sambirejo, Selupu Rejang, Rejang Lebong, Selasa (2/11). Mbah Yugo diminta bantuannya untuk menangkal hujan. Benarkah? berikut perbincangan dengan Mbah Yugo.

IMAN KURNIAWAN - Selupu Rejang


Mbah Yugo berpenampilan sangat sederhana, mengenakan pakaian serba hitam dan terselempang kain yang tampak sudah tak baru. Karena, dari bentuk kain terlihat sering digunakan oleh Mbah. Dibagian kepalanya ditutup dengan iket (kain penutup kepala) dari batik. Selain itu, Mbah Yugo mengenakan sapatu tinggi atau sering disebut dengan sepatu bot. Dan tidak ketinggalan, dibagian jari manis kiri dan kananya melingkar cincin bermata besar yang memancarkan energi magis. Meskipun usiannya, sudah menginjak 1 abad, namun mbah Yugo masih mampu melihat dengan tajam, dan kacamatanya tidak seperti orang seusianya, yang terlihat tebal. Kacamata yang dikenakan mbah Yugo tampak seperti kacamata seseorang usia 40-50 tahun.

Yang paling menarik dari Mbah Yugo yakni tongkat berwarna coklat melingkar-lingkar seperti ular cobra yang selalu digenggamnya. Bagian bawah tongkat yang menyentuh tanah persis seperti ekor ular dan bagian atas tongkat, yang selalu digenggam Mbah yugo bentuknya lebar persis seperti kepala ular cobra. Namun sayang Mbah Yugo tidak mengetahui dari kayu apa tongkat itu terbuat dan dari mana asalnya. "Saya tidak tahu dari mana tongkat ini," kata Mbah Yugo. Apakah tongkat itu merupakan warisan turun temurun? Mbah Yugo juga tidak mengerti, tahu-tahu tongkat itu sudah ada pada dirinya.

Mbah Yugo, adalah pria kelahiran Wates, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta seratus tahun yang lalu. Sekitar tahun 1957, Mbah Yugo hijrah ke Kabawetan, Kabupaten Kepahiang. Entah bagaimana awalnya Mbah Yugo dipercaya mampu menunda kedatangan hujan. Mbah Yugo mengaku, sering diajak setiap ada acara besar, bukan hanya di Kepahiang dan RL, tapi juga Mbah Yugo sudah sering berkeliling Provinsi Bengkulu, seperti Bengkulu Utara dan Sebagainya. "Saya juga sering diajak oleh Gubernur," aku Mbah Yugo.

Kemarin Selasa, saat acara penutupan TMMD di Lapangan Sepak Bola, Desa Sambirejo, Selupu Rejang, keadaan langit tampak hitam pekat, menandakan saat itu bakal turun hujan yang sangat lebat. Sebelumnya, pagi sekali, Selupu Rejang sempat diguyur hujan. Mbah Yugo, tampak duduk tenang dibawah tenda tamu udangan, sejak awal Mbah Yugo tidak beranjak dari tempat duduknya. Dan juga tidak berbicara sama sekali. Namun, dari diamnya Mbah Yugo itu, tersirat bahwa sesungguhnya Mbah Yugo tidak diam. Mbah Yugo tengah mengucapkan sesuatu, hanya saja apa yang diucapkan tidak ada yang tahu kecuali Sang Maha Kuasa. Hingga acara usai, baru kemudian Mbah Yugo beranjak dari tempat duduknya. Anehnya, walaupun langit sangat gelap, ketika berlangsungnya Upacara Penutupan TMMD, hujan tidak turun, hanya angin yang bertiup lumayan kencang. Lambat laun, awan yang tadinya hitam terbuka, cahaya matahari menembus hingga lapangan. Hingga acara usai, hujan tidak turun. Ketika ditanya apakah Mbah Yugo memiliki kemampuan menangkal hujan? Mbah Yugo dengan polos mengatakan, tidak memiliki kemampuan itu. "Yang punya kuasa untuk menurunkan dan menunda datangnya hujan itu Yang Maha Kuasa. Manusia tidak mampu menangkal hujan. Kalau Yang Maha Kuasa Menghendaki turun hujan, kita tidak bisa menolak," kata Mbah Yugo bersahaja. Namun, kata Mbah Yugo, sebagai manusia perlu berdoa, agar Upacara dapat berlangsung lancar dan aman. "Saya hanya berdoa memohon agar upacara berjalan lancar, salah satunya memohon agar tidak turun hujan," pungkas Mbah Yugo.(**)

Pernah Di Terbitkan SKH. Radar Pat Petulai (RPP)

Sumber: http://darirejang.blogspot.com 

Perjuangan Rakyat Tabarenah Curup Utara

Desa Perjuangan, Desa Terlupakan

Tepat hari ini, 10 November 2010, seluruh masyarakat Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Untuk mengingat sejarah perjuangan Pahlawan yang dengan gagah berani memepertahan Kedaulatan NKRI. Di Rejang Lebong (RL) pertempuran hebat itu terjadi di Desa Tabarenah (dulu Dusun Tabarenah). Pertempuran yang tidak sedikit jumlah korban jiwanya. Baik dari pihak tentara dan juga masyarakat sipil yang ikut bahu membahu mempertahankan Kemerdekaan RI. Bagaimana kisah pertempuran Tabarenah? Berikut cerita saksi hidup, Amarudin (71)

IMAN KURNIAWAN - Tabarenah


Meskipun, Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) sudah di Proklamirkan, 17 Agustus 1945. Namun, pergolakan dan pertempuran sengit masih terjadi. Tentara Jepang masih menjadi ancaman, khususnya masyarakat Curup dan sekitarnya. Terjadilah pertempuran hebat di Kota Curup dan sekitarnya pada 27 Desember 1945. Pertempuran menghadapi tentara Jepang itu, melibatkan TKR dan rakyat Rejang Lebong. TKR memusatkan kekuatannya di Dusun Tabarenah. Sementara, Jepang mengirim utusan tentaranya dengan membawa ancaman bagi TKR. Namun, justeru TKR dan rakyat menjadi bertambah semangat untuk melawan habis-habisan. Menurut, Amarudin, seorang saksi hidup yang mengetahui sejarah pertempuran Tabarenah.

Komandan Pertempuran waktu itu adalah Kapten Berlian. Namun, menurut catatan di Monumen Tabarenah yang diresmikan tahun 1999, tongkat komando diserahkan kepada Staf Batalion R. Iskandar Ismail dibantu Kepala Mobilisasi/Latihan Rakyat MZ Ranni, 30 Desember 1945. Menjelang Fajar, Jepang menyerang Tabarenah. Jembatan pehubung di Desa Tabarenah menjadi ajang perebutan kedua belah pihak. Menurut Amirudin, jembatan Tabarenah sengaja diputus dan dihancurkan agar Jepang tak bisa melewati Tabarenah untuk menuju ke Lebong. Hanya saja karena kalah dibidang persenjataan, akhirnya Jepang dapat memasuki Tabarenah. "Waktu itu seingat saya, kita hanya ada 4 senapan berkaki 4 sebagai pertahanan," tukas Amirudin yang lahir di tahun 1939 di Dusun tabarenah itu.

Jepang membabi buta dan membakar rumah-rumah rakyat. Tabarenah berkobar, dari 66 rumah yang ada hanya tersisa 6 rumah milik warga. Dan banyak bergelimpangan korban nyawa, baik dari masyarakat sipil, TKR dan tentara Jepang. Pertempuran secara frontal terjadi di Desa Tabarenah, TKR bersama rakyat dengan modal keberanian dan keikhlasan mati-matian membela dan mempertahankan NKRI. Hingga akhirnya, menurut Amirudin, Jepang kembali ke markasnya Dwitunggal dengan membawa 9 truk berisi mayat tentara Jepang.

Pihak Rakyat TKR yang turut berjuang diantaranya, Rakyat Muara Aman, Ujung Tanjung, Talang Leak, Kota Donok, Air Dingin, Bukit Daun, Pal Delapan, Tabarenah, Curup dan BPRI Curup. "Saat ini saya masih ingat di mana-mana saja kuburan massal tempat menguburkan jenazah yang meninggal pada waktu itu," kata Amiriudin. Hanya, saja tempat itu sudah tidak berbekas, sebagai kuburan massal.

Tahun 1949, Kapten Berlian membangun sebuah tugu tanda di sana pernah meletusnya perjuangan rakyat. Tugu tersebut diberi nama, Tugu 45. Dikatakan Amirudin, Kapten Berlian membangun Tugu tersebut sebagai ucapan terimakasih kepada masyarakat Tabarenah yang sudah membantu TKR mempertahankan kemerdekaan. "Waktu itu Kapten Berlian bilang, kalau dia tidak sanggup untuk membangun kembali rumah-rumah warga. Oleh karenanya, sebagai pengganti dibangunlah Tugu tersebut dan juga MAsjid Rijal yang ada di Tabarenah," cerita Amirudin. Sayangnya, tugu perjuangan itu, kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Tidak ada perhatian dari Pemerintah bagaimana wujud menghargai sebuah Tugu perjuangan. Letaknya yang berada di tepi tebing dan kiondisinya sudah mulai hancur itu, tampak sekali tak terawat. "Kebetulan saya Ketua LKMD, saya sisakan sedikit dana LKMD untuk mengecat Tugu. Kalau dari pemerintah belum ada sama sekali," cetus AMirudin. Kalau Bisa, diharapkan Amirudin, Tugu 45 itu dimundurkan sedikit mengarah ke tengah.

Selain itu, dari pantauan RPP Monumen untuk mempringati dan mengenang perjuangan rakyat yang terletak tidak jauh dari Jembatan Tabarenah kondisinyapun sama, sangat tidak terawat. Rumput ilalang tumbuh disekelilingnya. Monumen yang diresmikan tahun 1999 oleh Gubernur Bengkulu, Drs H Adjis Ahmad dan Pangdam II Sriwijaya Mayjend. Afandi, SIP itu bagaikan hanya sekedar batu pajangan belaka. Untuk menuju tugu dan monumen tidak ada kemasan bahwa daerah tersebut adalah daerah perjuangan. "Cobalah pemerintah perhatikan desa kami ini. Dulu kami sampai makan celana dan baju karung goni. Sekarang sudah enak. Saya bisa menyampaikan lewat adek-adek inilah, kalau membuat surat resmi saya tidak bisa. Saya orangnya tidak sekolah," pungkas Amirudin berharap.(**)

Sumber: http://darirejang.blogspot.com

Sempurna, Bioskop Pertama di Curup

MERASA pentingnya sarana hiburan di KotaCurup, H.Muhammad Abas Saleh mendirikan sarana hiburan. Sebelumnya, H.M Abas merupakan seorang pedagang yang bermitra dengan TNI. Kemudian, karena perkenalannya dengan Ketua Bioskop Indonesia Rai Dilip Kumar, kemudian H.M Abas mendirikan sebuah gedung bioskop pada tahun 1955 dan berdiri tegak di tahun 1956. Berdirilah Bioskop Sempurna, sebuah bisokop pertama di Curup.

Namun, rencana H.M Abas membuat sarana hiburan berupa gedung bioskop pada masa itu terkendala oleh dana operasional, sedangkan gedung bioskop sudah berdiri. Akhirnya, dengan mendapat dukungan dari teman-temannya, Mahmud Tuaku Aryo, Moh Asan Han, Nanang Abu Bakar dan Ketua Serikat Islam se Sumbagsel Muhammad Ali. Hingga akhirnya sekitar bulan Agustus tahun 1956 izin biskop dikeluarkan.

Pada 2 Januari 1957, gedung bioskop akhirnya diresmikan oleh Ahmad Aroji Wakil Ketua I Serikat Islam, kemudian hadir Gubernur Militer Palembang M HUsen, Raja Film Asia Singapore Cahaya Murni, Than Bak Kang dan Ketua Bioskop Rai Dilip Kumar. Menurut Farid, pada saat itu, Than Bak Kang menyediakan film-film non India, sedangkan Dilip Kumar menyediakan film-film India. "Film yang pertama kali diputar waktu itu film King Kong, dengan harga karcis 50 perak," cerita Farid.

Bioskop pertama tersebut bangunannya cukup luas, 28 M x 75 M. Dengan jumlah kursi penonton yang disediakan sebanyak 1000 kursi. Sebuah gedung yang fantastis untuk masa itu, sudah mampu membuat gedung bioskop yang cukup besar. Dalam sehari Bioskop Sempurna menampilkan 3 kali pertunjukan, pukul 14.30 WIB, 16.30 WIB, dan 19.30 WIB. Karyawan Bioskop terdiri 3 orang operator proyektor, 3 penjaga, 4 penjaga karcis dan 6 tenaga kebersihan dan petugas lainnya. Total 24 orang karyawan.

Hingga akhirnya, sekitar 1974-1975, jumlah penonton mulai berkurang. Karena pada masa itu, mulai muncul stasiun televisi dan masyarakat banyak yang memilih menonton televisi. Kendati demikian, bioskop sempurna tetap bertahan. Sekitar tahun 1974 Pemerintah Daerah mendirikan Bioskop Pat Petulai, diatar tanah bekas hal badminton. Bioskop Sempurna, bertahan hingga tahun 1996, hingga akhirnya tutup dan kontruksinya sekarang hancur total. "Dulu bioskop merupakan hiburan primadona masyarakat Curup," pungkas Farid.

Sumber: http://darirejang.blogspot.com